Phone: 0341-578182HP. 62816553755 Email: masterprima1@gmail.com

Sangat Inspiratif : Kisah Anak Lulusan SMK yang Berhasil Berjuang Masuk PKN STAN

29 September 2019 20:10



Berakit-rakit ke hulu,

Berenang-renang ke tepian.

Bersakit-sakit dahulu,

Bersenang-senang kemudian

Mungkin itulah pantun yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perjuangan pasca lulus masa putih abu-abu. Enam tahun silam, setelah pengumuman kelulusan Ujian Nasional, ucapan selamat dari keluarga, guru dan teman-teman datang membanjiri atas pencapaianku, ya, predikat lulusan terbaik se-SMK melekat padaku. Namun kebahagiaan itu tak berselang lama, teman-temanku sudah mendapatkan kampus impiannya, namun siapa sangka ternyata aku tidak diterima di kampus manapun. Entah apa penyebabnya aku pun tak tahu, kalau kata orang belum rejekinya. Semua jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sudah aku coba, namun tak satu pun yang membawa kabar gembira. Ketidakberuntungan berlanjut ketika aku mencoba untuk mendaftarkan diri ke kampus kedinasan yang katanya menjadi idaman banyak orang termasuk kakak-kakakku yang dulu pernah mencobanya berkali-kali tetapi gagal yaitu kampus PKN STAN (dulu bernama STAN saja). Bukan gagal pada saat tes SPMB STAN (dulu USM STAN), tetapi lebih parahnya lagi aku ketinggalan informasi terkait waktu pendaftaran, pada saat ingin mendaftar ternyata pendaftaran masuk PKN STAN telah ditutup. Kesialan bertubi-tubi ini membawaku pada kondisi paling drop yang pernah aku alami. Bagaimana mungkin lulusan terbaik di sekolah justru tidak kuliah, pikirku waktu itu.



GAGAL di Tahun PERTAMA : Tetap Menjaga Impian (Belajar Otodidak) Meski Sambil Bekerja

 

Kendati demikian, aku mengalihkan sementara konsentrasiku untuk mengaplikasikan ilmu yang telah aku pelajari di sekolah namun tetap memegang niat untuk melanjutkan studi di tahun berikutnya tanpa membebani biaya perkuliahan ke orang tua. Aku melamar ke sebuah perusahaan manufaktur berbasis teknologi di ibu kota Jawa Timur, Kota Surabaya. Selama bekerja, aku tidak meninggalkan kesempatan untuk belajar di sela-sela jam kerja. Rutinitas belajar-kerja ini terus aku lakukan setiap hari dari bangun tidur hingga sebelum tidur. Dengan dukungan dan doa dari keluarga, aktivitas yang menguras tenaga ini menjadi tidak terasa melelahkan. Sekalipun aku harus mengenyampingkan ilmu sebelumnya dengan mempelajari ilmu Saintek guna mengikuti SBMPTN, aku pun juga mempelajari pola dan trik soal-soal USM STAN yang diujikan dari tahun ke tahun.

 

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, aku mengandalkan sistem belajar otodidak untuk mempersiapkan diri ujian masuk PTN dan PKN STAN. Hingga suatu saat aku merasa perlu ikut bimbingan belajar agar bisa lebih fokus dalam belajar dan memahami materi. Akan tetapi, aku mengurungkan keinginanku tersebut karena tidak menemukan kecocokan waktu untuk mengikuti bimbel dikarenakan jam kerja bersamaan dengan jam bimbel. Dengan hanya berbekal satu buah modul latihan soal-soal USM STAN dan sepasang sepatu running, aku berusaha untuk bisa menjadi mahasiswa PKN STAN. Dengan bekal minim tersebut, aku tidak merasa kecil karena pernah mendapat nasihat dari teman semasa SMP yang sudah menjadi mahasiswa STAN duluan dengan memberitahu bahwa USM STAN itu banyak peminatnya tapi hanya sedikit yang benar-benar niat sehingga bisa lolos, dan aku pun merasa bahwa niatku yang tinggi untuk melanjutkan studi menjadi modal bagiku untuk bertempur dan keyakinan bahwa aku menjadi 1 dari 4000 mahasiswa yang akan diterima di kampus PKN STAN. Sedangkan bekal untuk masuk ke PTN jauh lebih banyak yakni berbagai macam modul materi dan latihan soal karena materi SBMPTN yang cukup banyak. Di samping mempersiapkan bekal untuk seleksi masuk kampus, aku juga mengikuti seleksi beasiswa yang diselenggarakan oleh salah satu yayasan ternama. Berbagai ikhtiar aku jalani, termasuk juga lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Pada waktu itu, USM STAN diselenggarakan dengan tiga tahapan yaitu tes tulis, tes kebugaran dan kesehatan, dan tes wawancara. Dengan mengayuh sepeda di pagi hari Kota Surabaya, aku berangkat menuju lokasi ujian. Doa keluarga menyertai keberangkatanku. Sesampainya di lokasi ujian, euforia persaingan sangat terasa sejak memasuki area parkir hingga di dalam ruangan besar yang menampung ratusan peserta ujian. Banyak peserta datang dengan diantar oleh kedua orang tuanya, bahkan ada yang diantar seluruh anggota keluarganya. Tidak berkecil hati, dengan badan tegap aku memasuki ruangan kemudian mencari nomor duduk. Sempat terpikir dalam hati, bagaimana cara mengerjakan soal jika tidak ada meja ujian, hanya tempat duduk saja karena di dalam stadion olahraga. Namun, pada akhirnya tes tulis berhasil aku lewati. Pada saat pengumuman kelulusan ujian tes tahap pertama, secara nasional dari ratusan ribu peserta tersisa hanya belasan ribu saja yang lolos ke tahap kedua. Hal ini menjadi bukti bahwa tes tulis menggugurkan banyak peserta. Lolos ke tahap dua, ujian kebugaran dan kesehatan juga mampu aku lalui dengan baik yakni dengan lari 12 menit menempuh 5,5 putaran lapangan berukuran 400 meter sekali putaran dan finish di urutan pertama sesudah overlapping 3 peserta. Dilanjutkan lari sprint membentuk angka delapan (8) sebanyak 3 kali antara dua tiang berjarak kurang lebih 8 meter dengan tempo waktu kurang dari 20 detik. Tes tahap kedua juga berhasil aku lewati. Dari pengamatanku di hasil ujian kelulusan tes tahap kedua, perbandingannya adalah 1:2 yang artinya peserta yang lolos ke tahap akhir adalah sekitar 2 kali jumlah yang disediakan kuota kursi mahasiswa baru. Tes tahap terakhir yaitu tes wawancara, berhasil aku lalui dengan menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan dengan tenang dan jujur.

 

Pada akhirnya, seluruh rangkaian tes telah aku lalui dan aku berhasil menjadi mahasiswa baru di kampus PKN STAN. Informasi kelulusan di PKN STAN aku dapatkan tepat pada malam hari ulang tahunku, sebuah kado yang sangat indah dari Sang Pencipta, tentang bagaimana buah dari kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan dalam meraih sebuah tujuan. Pada saat aku membaca pengumuman kelulusan mahasiswa baru PKN STAN, aku sedang menjalani orientasi mahasiswa baru di sebuah PTN favorit di Kota Malang dengan status penerima beasiswa. Kebahagiaan muncul bersamaan dengan kebimbangan, antara kuliah di kampus negeri dengan beasiswa atau di kampus kedinasan dengan biaya kuliah gratis. Hingga hati kemudian memilih untuk meninggalkan beasiswa dan PTN yang dulu pernah aku idamkan demi menuju ibu kota Negara dan menimba ilmu di kampus yang mendapat julukan kampus Ali Wardhana hingga lulus dengan predikat Cumlaude dan pernah menjadi salah satu finalis mahasiswa berprestasi Kampus PKN STAN tahun 2016.


Indah pada saatnya

Begitulah sekilas jalan cerita hidupku dalam meraih status mahasiswa. Lika-liku kehidupan selalu ada, namun yang terpenting adalah niat, doa, dan ikhtiar yang kuat. Hingga pada saat ini aku telah bekerja di sebuah institusi yang bergerak di bidang penerimaan negara. Satu hal yang menjadi keyakinanku dan selalu aku pegang hingga sekarang yakni bahwa rencana Allah selalu lebih indah, apapun yang terjadi itulah yang terbaik bagiku sekalipun mungkin tidak sesuai dengan harapan tetapi akan indah pada waktunya. Insya Allah…



Baaghas Ahmad Yuwanto
Alumni DIII Akuntansi 2014
Lulus PKN STAN 2017
Sekarang bekerja di Direktorat Jendral Pajak